REKENING TRANSFER
   (a.n SUWANDONO SE)

      •  BCA           2000282670
  "Saudara Kembar"

        Lepas dari Kota Jember, kendaraan saya yang melaju akan melewati pegunungan dengan jalan yang meliuk-liuk, lebih parah dari belokan-belokan di Puncak yang berpanorama lepas dengan latar tanaman teh sejauh mata memandang. Tempat itu amat dikenal dengan Gunung Kumitir, padahal nama Gunung Kumitir tidak terdaftar di peta mana pun. Gunung Kumitir sejatinya hanyalah lereng dari Gunung Raung. selengkapnya

 
 
 
Judul
Jumlah halaman
Tebal buku
Pengarang
Penerbit

: Candi Murca, Air Terjun Seribu Angsa.
: 832
: 3,4 mm
: Langit Kresna Hariadi.
: Langit Kresna Hariadi Production

selengkapnya

PESAN !

 

Transfer ke rekening BCA No 2000282670,
kirim bukti transfer lewat fax 0341441915 !!!

  PERMOHONAN MAAF  

 

Lumbal Sacral itu timbul Juni 2008 lalu, siapa sangka akan menjadi masalah yang sangat besar buat saya, selanjutnya menjadi sebuah kosa kata baru yang akrab dengan mulut saya. Saya sedang berada dan memberi ceramah di JHCC Jakarta atas undangan Departemen Perdagangan ketika untuk melangkah yang hanya beberapa ayunan kaki terasa sangat sakit. Otot kaki sebelah kiri saling tarik menarik memunculkan nyeri yang membetot otak. Dugaan asam urat menyebabkan saya mengkonsumsi antinya dengan berlebihan, namun tak kunjung sembuh.

 

Titik terang saya peroleh dari Dokter Spesialis Syaraf di Jember, saya tersandung Lumbal Sacral, itu istilah ketika syaraf terjepit oleh ruas-ruas tulang punggung di posisi L4 dan L5. Obat yang saya terima celakanya bersifat simptomatik, hanya menyelesaikan nyerinya tidak mengusir sumbernya. Konsultasi fisoterapi dengan traksi saya rasakan sama sekali tidak mengubah keadaan. Padahal nyeri yang saya rasakan amat dominan mengganggu kegiatan menulis yang saya lakukan. Bayangkan, ganti posisi duduk saja sakitnya minta ampun. Sumber sakit yang sebenarnya terletak di pinggang, memberikan tipuan melalui kaki kiri dari pangkal paha sampai telapak tangan, otot saling tarik menarik dan kesemutan 24 jam.

 

Saya menjelajahi dokter spesialis ke dokter spesialis, saya harus didorong dengan kursi roda ketika berada di bandara, saya harus terpincang-pincang dan setiap sore selalu berurusan dengan tukang pijat. Enam bulan lamanya saya belum menemukan titik terang sementara koreksi syaraf yang terjepit melalui operasi adalah salah satu opsi yang paling masuk akal dengan resiko kelumpuhan.

 

Beruntunglah saya, di antara penggemar ada Dokter Ferdilla, si cantik spesialis syaraf ini menjadi teman diskusi berhari-hari, dan dari bimbingan Dokter inilah saya menemukan arah yang semakin jelas. Atas bantuannya saya menjalani MRI di RS Ciptomangunkusumo dengan hasil sebagai berikut : Dilakukan pemeriksaan MRI lumbosakral potongan sagital dan aksial T1 dan T2 weighted, tanpa pemberian kontras dengan hasil sebagai berikut : Alignment kolumna vertebrae lumbosakral tampak straight. Tampak listhesis. Tampak degenerasi korpus vertebrae L2, L3, L4 dan L5. Tampak spur anterior vertebrae L3, L4 dan L5. Tampak degenerasi discus intervertebralis lumbalis. Tampak penonjolan discus intervertebralis L4-L5 dengan penekanan radiks bilateral terutama kiri. Tampak penonjolan discus intervertebralis L5-S1 dengan penekanan radiks bilateral terutama kiri. Konus modularis setinggi L1. Mielografi terlihat indentasi minimal di semua level lumbal. Tidak tampak lesi intradural. Lamina baik. Jaringan lunak paravertebrae baik. KESAN : HNP setinggi l4-5 dan L5-S1 dengan penekanan Radiks bilateral terutama kiri. Spondiloartrosis lumbalis. Hasil kajian itu ditandatangani oleh Dr. Vally W, Ahli Radiologi.

 

Hasil pemeriksaan itu semakin mencekam karena Prof Fitri, ahli penyakit syaraf di RS Ciptomangunkusumo sangat mencurigai keberadaan degenerasi korpus vertebrae karena menurutnya di usia saya yang belum 50, kecil kemunginan hal itu terjadi, atas petunjuknya harus dilakukan pemeriksaan Colon dan Prostat, siapa tahu ada kanker dan penampakan degenerasi korpus itu hanya bercaknya. Pemeriksaan yang butuh waktu seminggu itu memacu jantung saya, waduh, bila terkena kanker, gawatlah saya.

Pemeriksaan Colon dan Prostat dilakukan di RS Oen Solo, hasilnya negatif. Lolos dari lubang jarum sedikit membuat saya lega.

 

Lumbal Sacral ini fatal buat saya karena sangat mengganggu sikap duduk dan mengganggu langkah kaki. Untuk bergerak 20 meter menjadi masalah yang besar. Obat-obat golongan Meloxicam, Voltaren harus sering saya telan dan sejujurnya menyebabkan rasa takut akan mengganggu ginjal (salah seorang kakak saya, Mbulan Soegijono wafat karena gagal ginjal).

 

Perkenalan saya dengan Slamet Raharjo Jarot bisa jadi menjadi pembuka pintu (secara tidak langsung) atas pemulihan keadaan saya. Beberapa bulan yang lalu beliau mengundang saya untuk membantunya membuatkan cerita film layar lebar yang akan dibuatnya. Empat hari di Solo saya mendampinginya ketika shooting film Lastri (dibintangi Marsella Zalianti yang akhirnya film itu harus terhenti karena bintangnya kesandung masalah) berujung sebuah kesepakatan kerja sama. Saya terpaksa menyisihkan waktu dalam keadaan sakit yang luar biasa untuk membantunya (cerita berasal dari mengolah kembali Gajah Mada jilid 1, 2 dan 3) yang harus saya akui meski jenis pekerjaan yang ringan, namun ikut mengganggu produktifitas saya.

Film yang akan dishoot bulan Juni ini untuk sementara saya tidak memiliki hak menyebut judulnya dan atau mempublikasikannya. Akan tetapi kelak akan ada konferensi pers. Untuk kepentingan publikasi film itu, saya harus menulis ulang dan menerbitkannya, buku itu nantinya akan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan Cina karena film dimaksud diprediksi tidak akan menghasilkan keuntungan apabila hanya beredar di Indonesia. Film itu diharapkan bisa beredar di Asia dan Eropa.

 

Melalui Mas Slamet Raharjo inilah saya kemudian berkenalan dengan Ibu Lilik, istri produser film yang akan dibuat itu yang….(ha ha).. pernah punya masalah Lumbal Sacral pula, pun posisinya sama, yaitu di L4-L5 pula.

 

Dari petunjuk beliau perjalanan saya akhirnya bermuara kepada pertemuan saya dengan Dokter Michael Triangto, Dokter Spesialis Olah Raga yang berpraktek di RS Mitra Kemayoran. Sepele ternyata, obat sakit saya bukan obat apa pun yang bersifat simptomatik akan tetapi senam. Saya harus melakukan gerakan-gerakan senam tertentu yang harus dilakukan berulang-ulang menjelang tidur tanpa kasur. Gerakan-gerakan itu secara signifikan mengembalikan posisi tulang sehingga tidak jahil lagi menghimpit syaraf yang menyebabkan saya syaraf berbulan-bulan. Dahsyatnya, saya sekarang sedang membimbing tetangga saya dengan kasus yang sama, sama-sama di L4-L5 pula.

 

Dengan kini saya mampu berjalan sedikit agak jauh tanpa masalah, berenang 1500 meter seminggu sekali dan bisa duduk di depan komputer dengan nyaman saya langsung tancap gas. Perang Paregrek II sedang saya kebut secepat-cepatnya bukan sekadar untuk segera menghapus kekecewaan pembaca namun juga untuk memenuhi dead line yang diberikan sebuah PH yang berniat mengangkatnya juga ke layar lebar. Oleh kepentingan film inilah jumlah halaman Paregrek II lebih tebal dari yang pertama dengan alur cerita yang lebih mampat. Untuk penerjemahan Perang Paregrek ke dalam bahasa Inggris adalah atas prakarsa produser pula.

 

Untuk semua keterlambatan itulah pembaca, saya memohon maaf dan dengan segera berusaha menebusnya. Usai Paregrek II yang bertutur perkawinan Kusumawardani dengan lelaki yang dicintainya serta hukuman mati yang dijatuhkan pada Emban Ragaweni, saya akan mengerjakan Candi Murca IV berkejaran dengan penulisan ulang film Mas Slamet Raharjo (versi buku) setelah skenarionya tuntas serta sebuah kisah nyata konflik perkawinan antar etnik yang kasusnya saya anggap luar biasa.

 

Selanjutnya melalui kesempatan ini saya ingin menyampaikan terimakasih kepada Dokter Ferdilla (kalau konsultasi resmi berhari-hari dan berjam-jam entah habis biaya berapa, saya masih membutuhkan petunjuknya untuk kasus Sinusitis Maxillaris dextra yang saya idap), kepada patner saya Swandono yang nyaris menggotong saya ke Singapura,

kepada Ki Slamet Raharjo Jarot yang membuka semakin lebar wacana saya, kepada Ibu Lilik yang mengalami kasus Lumbal Sacral yang sama, dan terutama kepada Dokter Michael Triangto yang luar biasa, tanpa petunjuknya bisa jadi saya masih akan tertatih-tatih atau ke mana-mana dengan kursi roda. Terimakasih juga kepada kakak kandung saya yang selalu mencambuk saya untuk tetap bersemangat dan tidak menyerah, Jenderal Lintang Waluyo di Jakarta dan Prof. Dr Mega Teguh Budiarto di Surabaya. Mas Mendung di Denpasar menggunakan cara yang unik dalam menyemangati saya, “aja lumpuh ngisin-isini,“ maksudnya, “jangan lumpuh, bikin malu.”

 

Langit Kresna Hariadi, is back.

 

 

Copyright © 2007 langitkresnahariadi.com. All rights Reserved.